Betapa lelahnya menjadi orangtua dan guru apabila kita selalu memusatkan perhatian pada MASALAH, KELEMAHAN, dan DOSA anak-anak.
Betapa lelahnya menjadi anak dan murid apabila orangtua dan guruselalu menekankan pada APA YANG SALAH, APA YANG HARUS, dan APA YANG LEMAHdalam diri anak.
Betapa frustrasinya kita bila tiap kali mendengarkan kotbah,kita selalu ditegur karena GAGAL MENJADI ANAK BAIK, GAGAL MENTAATI KEHENDAK TUHAN, GAGAL dan GAGAL.....
Sekolah Bina Iman Sahabat Kristus mengajak anak,orangtua dan guru naik ke gunung kemuliaan Allah, dan melihat kehidupan dari atas, dengan kaca mata Allah yang penuh kasih anugerah. Ternyata tidak mudah! Kita sebagai orang dewasa atau guru umumnya cenderung memberikan beban, perintah dan larangan kepada anak dan murid kita. Cara pandang kita sendiri sudah dicemarkan oleh dosa sehingga sulit melihat berkat dan keindahan Allah sertasinar kemuliaanNya dalam diri anak-anak kita. Selain itu, beban sekolah telah mengurangi kepekaan anak untuk melihat keberadaan Allah dalam hidup mereka.
Pelajaran demi pelajaran dilalui, proyek demi proyek dijalani, dan sungguh luar biasa. Kami baru menyadari betapa banyak berkat Tuhan yang berlalu tanpa disadari,apalagi dihitung. Sebab ituSekolah Bina Iman Sahabat Kristus mengadakan beberapa proyek,misalnya:
Orangtua, guru, anakdan bahkan staf Sekolah Bina Iman diminta untuk mencatat di kartu setiap keindahan yang mereka temui dalam diri anak. Semakin banyak kebaikan Tuhan yang dinyatakan dalam hidup anak, semakin banyak kartu yang ditulis. Kartu-kartu tersebut kemudian dikumpulkan dan ditukar dengan lilin yang akan dinyalakan di penghujung semester. Semakin banyak kartu yang ditulis, semakin terang sinar yang terpancar dari lilin.
Ternyata proyek ini bukan saja menolong orangtua dan guru untuk lebih memperhatikan hal positif dalam diri anak, tapi jugamempereratkebersamaan dan kekeluargaan antara anak dan orangtua maupunantara anak dan guru.
Beberapa contoh Sinar yang ditemukan dalam diri anak, misalnya:
"Terimakasih Tuhan untuk kesabaran Jefry menghadapi saya sebagai ibu, walaupun padasaat itu mood saya sedang jelek sekali."
"Saya bersyukur melihat Joni berinisiatif membawakan toples untuk Ibu Ratna", demikian komentar yang ditulis oleh mamanya Andry.
"Tidak seperti biasanya kali ini Matius ikut serta dalam diskusi dengan antusias, membuat Ibu merasa bahagia menjadi guru pembimbingmu".
"Gitu dong Lis, mbok ngepel sekolah dan kamu jalan jinjit sambil bilang 'permisi'. Seandainya semua anak seperti kamu, mbok betah deh kerja di sekolah ini."
"Randy, papa sebenarnya sangat sedih dengan tingkah-lakumu akhir-akhir ini, tapi papa lihat kamu kemarin bangun tidur dengan senyum yang manis sekali. Walaupun sebentar, bagi papa itu sudah cukup memberi kesejukandalam hati papa."
"Tuhan baik sekali pada Dandy. Saya dengar dari Pak Satpam, kamu hampir tertabrak mobil, tapi Tuhan melindungi kamu sehingga kamu tidak celaka. Saya ikut bersyukur."
"Tuhan baik pada adikku, karena adikku sudah sembuh dari pilek."
"Kamu biasanya cemberut terus dan tidak mau bermain denganku, tapi hari ini kamu mau main denganku. Terimakasih, ya."
Games (permainan) yang diadakan saat family altar juga sangat menolong setiap anggota keluarga untuk menyadari betapa banyak hal yang Tuhan izinkan untuk dialami dalam satu hari. Salah satu bentuk permainan yang menarik adalah: Bantal bercerita. Setiap anggota saling melemparkan bantal. Orang yang dilempari bantal harus menangkap dan menyebutkan aktivitas apa yang telah ial akukan pada hari itu, kemudian bantal itu dilemparkan ke orang berikutnya, dan seterusnya. Jika aktivitas yang disebutkan sudah pernah disebut oleh orang lain, maka bantal harus dilempar kembali sampai orang tersebut dapat menyebutkan aktivitas lain yang belum pernah disebut.Sedangkan jika bantal yang dilempartidak tertangkap, maka orang tersebut akan dihukum misalnya: berlari, lompat kodok, dikitik-kitik, dll.Melalui permainan ini, tanpa sengaja anggota keluarga belajar “sharing” pengalaman dan menghitung berkat Tuhan. Di tengah gelak tawa dan bantal yang beterbangan ke sana-sini,rasasyukur danbahagia meliputi hati anak-anak. Mereka dengan bebasberteriak: bantuin papa angkat barang,cuci mobil, ke gereja, masukin uang persembahan, ketemu teman, makan kue sama mama, dengerin siaran radio RPK, jawab kuis, muter-muter cari parkir di stadion, dll. Setelah permainan selesai, kami menyadari bahwa masih banyak aktivitas yang belum disebutkan, hanya untuk satu hari itu saja. Ternyata kalau kita mau menghitung, begitu banyak berkat Tuhan yang sebenarnya bisa kita sebutkan.
Pernahkan kita mengambil waktu untuk merenung sejenak, "apa yang membuat kita senang menjadi anak Tuhan?" Banyak anak Tuhanyang melupakan hal ini. Dalam diskusi bersama keluarga dalam acara family altar, seorang anak berumur 7 tahun berkomentar: "Saya senang menjadi anak Tuhan, karena ketika di akhir zaman nanti, saya bisa ketemu Tuhan Yesus." Seorang anak usia 3 tahun berkata: "Saya cenang, kalena Tuhan Yesus nolongin saya".Betapa polos ungkapan anak-anak yang menghibur hati orangtua dan mengingatkanmereka agar tetap terus mensyukuriberkat yang mereka terima. Berkat terbesar yang sering kita lupakan adalah: Menjadi Anak Allah (Yohanes 1:12).
Melihat dan mendengar adalah hal yang sangatbiasa. Akan tetapi melihat puing-puing bait Allah yang hancur seperti Nabi Hagai atau mendengar suara Allah seperti Nabi Yesaya bukanlah hal biasa. Anak-anak Sekolah Bina Iman Sahabat Kristus tidak hanya dilatih untuk melihat, tapi juga melihat sambil berpikir dan mencoba menemukan kemuliaan dan kebaikan Allah dari apa yang ia lihat. Yang menarik adalahanak-anak usia 5-8 tahun lebih mudah menemukan kebaikan Allah. Seorang anak usia 6 tahun berkata: "Tuhan menciptakan awan dengan sangat indah, terima kasih Tuhan untuk awan". "Di balik tumpukan tanah, saya menemukan banyak sekali semut". Mendengar berita kecelakaan tragis dari seorang anak usia 7 tahun, seorang anak mengemukakan pendapat tentang kebaikan Allah “Karena Tuhan mau memberikan ujian iman supaya papanya lebih sabar”. Seorang anak yang lebih besar memperhatikan mikrolet yang lewat, ada yang kosong dan ada yang penuh. Kemudian ia menyatakan pikirannya: "bagaimanaperasaan si supir ya kalau mikroletnya kosong, ia pasti sedih". Seorang guru memperhatikan pos Satpam dan menyadari bahwa Pak Satpam itu sebenarnya baik sekali karena mau mengerjakan pekerjaan-pekerjaan lain selain tugas Satpam.
Di tengah hiruk pikuk kehidupan yang penuhmasalah, tantangan,kekecewaan dan keputus-asaan, dapatkah anak-anak Tuhan secara seimbang tetap melihat kebaikan Allah? Itulah yang hendak kami tanamkan di Sekolah Bina Iman Sahabat Kristus bahwa Allah yang Maha Murah dan Pengasih serta Penyayang tidak berubah oleh karena penderitaan atau kesulitan yang kita hadapi, sehingga sinarSalib Kristus dapat memancar melalui kehidupan setiap anak-anakNya yang setia.