Cara anak berpikir terbatas. Itu sebabnya tidak jarang anak salah menilai peristiwa yang terjadi di lingkungannya atau perlakuan orang lain yang diamatinya. Jangan heran pula bila ada kalanya kita tidak habis mengerti bagaimana anak mengambil kesimpulan atas apa yang dialaminya. Karena itu, kita pun terkejut, geli, dan kadang-kadang kesal melihat reaksi anak yang bagi kita kurang rasional ini.
Bagaimanapun juga, pemahaman terhadap keunikan cara berpikir anak ini akan membantu kita berkomunikasi dengan mereka. Anak pun akan lebih merasa dimengerti dan pengajaran yang kita berikan pun akan lebih efektif. Lagi pula, pemahaman akan kesederhanaan pola pikir anak ini sungguh-sungguh dapat membantu kita menolong pertumbuhan iman anak. Bahkan lebih dari itu. Perilaku polos anak dapat merupakan cermin yang jernih bagi kita, membuat kita yang peka dapat memetik bahan pelajaran berharga dalam kehidupan iman kita.
Apakah Anda merasa cukup mampu memahami dunia anak? Sebelum Anda menjawab pertanyaan tersebut, simaklah beberapa kisah unik yang pernah terjadi di kalangan keluarga besar Sekolah Bina Iman Sahabat Kristus ini.
Ananias dan Safira Masih Hidup?
Suatu kali dikelas anak usia 3 – 4 tahun, beberapa guru memainkan drama singkat tentang Ananias dan Safira. Kisah ini didasarkan pada kitab Kisah Para Rasul 5:1-11.
Semua anak memperhatikan pementasan ini dengan seksama. Ketika jalannya cerita sampai pada adegan puncak, yakni Ananias dan kemudian juga Safira mati karena mereka membohongi Roh Kudus, seorang anak tiba-tiba menangis. Usut punya usut ternyata anak ini menangisi guru yang disayanginya yang ‘mati’ dalam adegan drama tersebut. Guru-guru menjadi kaget karena tidak menyangka hal demikian akan terjadi.
Setelah peristiwa itu, perlu waktu lama untuk meyakinkan anak ini bahwa sang guru yang dikasihinya sesungguhnya masih hidup. Atas peristiwa ini para guru semakin berhati-hati dalam mengajar. Kebanyakan anak di bawah lima tahun memang belum mampu membedakan secara tegas antara realita dengan imajinasi. Pendidik agaknya perlu memperhitungkan faktor ini dalam mengajar murid-muridnya.
Siapa Menjaga Kacang Hijauku?
Suatu kali seorang anak 3 tahun memperoleh tugas dari guru untuk menanam biji kacang hijau. Kacang hijau itu harus dijaga karena pada hari yang telah ditentukan, setiap anak harus membawanya ke dalam kelas.
Ketika tiba saatnya tidur malam, sang anak berkeras tidak mau tidur demi menjaga kacang hijaunya. Namun karena Mama mengharuskan tidur, ia terpaksa masuk ke kamar.Sebelum tidur sang anak berdoa, "Tuhan, saya mau tidur. Saya nggak bisa jaga kacang hijaunya lagi. Tuhan tolong jagain, ya. Amin".
Kepercayaan yang polos khas anak-anak, karena kita yang sudah dewasa pun sering mengkuatirkan sesuatu sampai tidak bisa tidur. Kita dapat belajar dari anak-anak akan penyerahan diri total pada pemeliharaan Allah. Mengapa tidak berserah dalam doa kepadaNya?
Tuhan Yesus Ada Di Mana-Mana!
Seorang anak belajar hidup dengan berani. Menjelang tidur malam hari, orangtuanya membacakan cerita tentang Tuhan Yesus yang ada di mana-mana. Buku itu menceritakan secara sederhana bahwa Tuhan Yesus ada di samping, di atas, dan di bawah kolong tempat tidur kita.
Selesai membacakan cerita, anak itu bertanya,”Pa, Tuhan Yesus ada di kolong tempat tidurku? Papa pun mengangguk. Lalu sang anak tidur dengan lega.
Memang benar. Apa yang harus kita takutkan bila Tuhan Yesus bersama kita senantiasa?
Anak yang percaya akan kuasa Tuhan Yesus yang melampaui semua kuasa lain lebih berani menghadapi hidup. Mereka lebih memiliki daya tahan terhadap stres dan tidak mudah terkena trauma. Kalaupun mereka mengalami trauma, mereka akan pulih lebih cepat. Kenyataan itu membuat Sekolah Bina Iman Sahabat Kristus mengajarkan anak-anak menghafal demikian, "Dalam Tuhan Yesus, saya berani!"
Keberanian anak-anak yang didasarkan pada kuasa Tuhan Yesus akan memberikan ketentraman sejati dan hal ini berjalan seiring dengan keyakinan mereka akan pemeliharaan Tuhan.